Manajemen kemarahan
Kembali lagi ke anger management atau istilah indonesianya Manajemen Kemarahan. Kapan terakhir kali Anda marah? Bisa kepada siapa saja atau apa saja, bahkan kepada diri kita sendiri. Lalu apa yang Anda rasakan saat Anda marah? Kemudian, rasa apa pula yang Anda dapatkan ketika marah itu sudah reda? Tentu jawabannya bermacam-macam. Terlepas dari semua jawaban itu, saya ingin mengajak kita bersama-sama menyelami mahluk yang bernama marah atau amarah ini.
Semua orang pernah marah, karena kita semua memiliki emosi yang bermacam2, bisa sedih, senang, cemburu, dan marah termasuk didalamnya yang kita rasakan. It’s perfectly OK to be angry at times - in fact, it’s important to get angry sometimes.
Salah satu definisi Anger atau kemarahan menurut website angermgmt.com milik Leonard Ingram dan masalah dan akibat yg terdapat dalam kemarahan itu adalah sebagai berikut :
Anger is a natural human emotion and is nature’s way of empowering us to “ward off” our perception of an attack or threat to our well being. The problem is not anger, the problem is the mismanagement of anger. Mismanaged anger and rage is the major cause of conflict in our personal and professional relationships.
Domestic abuse, road rage, workplace violence, divorce, and addiction are just a few examples of what happens when anger is mismanaged.
Merujuk kepada pernyataan di atas, jelas sekali bahwa yang menjadi masalah bukan bahwa kita dilarang untuk marah, tapi kebanyakan dari kita, termasuk saya pribadi kerap kali melakukan manajeman yang salah dalam menyikapi keinginan untuk marah tersebut. Dan ternyata kesalahan manajemen ini sangat berakibat fatal, bahkan dapat mengakibatkan gedung WTC di New York hancur dalam tragedi 911, surat kabar seperti poskota dan lampu merah semakin banyak dihiasi berita pembunuhan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan masih banyak lagi. Tidak heran pula bila pengadilan di AS kerap memperkarakan kasus kemarahan dan menyediakan sesi khusus yg membahas tentang anger ini, karena ternyata 1 dari 5 orang Amerika memiliki masalah Anger Management.
Rasa marah tersebut harus dilepaskan dengan cara yang benar. Bila tidak, kita akan seperti ketel yang sedang memasak air. Bila ketel tersebut tidak diberikan lubang untuk mengeluarkan uapnya, maka yang terjadi adalah tutup ketel tersebut akan mengelaurkan air yang sudah panas tersebut dari tutupnya, dan akan mencederai orang yang kebetulan berada didekatnya. That’s no fun at all, right?
Tanpa berpanjang-panjang, saya hanya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan rekan-rekan sekalian bahwa ternyata ada tips untuk memanage rasa marah ini yang pernah saya baca dari buku atau majalah beberapa tahun yg lewat.
Menurut tips tersebut sebelum kita menumpahkan amarah kita, ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan :
1. Apakah kita marah pada orang yang tepat?
2. Apakah kita marah pada waktu yang tepat? dan
3. Apakah kita marah dengan alasan yang tepat?
Nah, bila ketiga hal tersebut sudah memenuhi syarat, maka kita diijinkan untuk marah. Namun, bila salah satu kondisinya tidak terpenuhi, jangan lah dulu marah. Evaluasi terlebih dahulu, belum tentu kita perlu marah, belum tentu ada orang yang salah, atau mungkin kita perlu mempertimbangkan perasaan orang lain bila kita melakukannya di tempat umum.
Mari sama-sama belajar manajemen marah dengan baik. Bahkan, dengan humor atau lelucon pun orang sadar bahwa dia sedang dimarahi atau ditegur. Semua pilihan ada pada diri kita sendiri. Tinggal kita yang memilih, yang benar atau yang salah.
*maafkan aku*

