ini potongan dialog saya dengan seorang teman di dunia maya ….(ga pernah ketemu sama orangnya) == > kurang lebihnya begini…
aku : gimana pendapatmu tentang sunnah Rasulullah agar laki2 memanjangkan jenggot?
mr x : sunnah, tapi kalo dulu ada maksudnya, untuk membedakan kita dengan orang yahudi, sekarangpun, menurutku masih sunnah, kalo dulu mewarnai rambut kan sunnah, lek saiki kaya brandal. Dulu aq jg panjangin jenggot,tp ibuku ga setuju, aq cukur. Lebih baik melanggar sunnah drpd melanggar kewajiban (wajib patuh pada ibu). Lagian sekarang kerjaku menuntut untuk ketemu klien, jadi kalo berjenggot kesannya kurang rapi
waks….
trus akhirnya…diskusi itu jadi puanjaang dan lama….aku berpendapat laki2 ya harus ikut perintah Rasulullah untuk memelihara jenggot, karena itu salah satu bentuk penyelisihan kita terhadap orang2 kafir, baik itu jaman dulu maupun jaman sekarang, karena Islam bukan agama yang hanya berlaku di masa dulu …tapi sepanjang masa sampai hari kiamat, dan dia tetep kekeuh bahwa itu sunnah, kalo ga dijalankan ya gpp, sekarang jalanin yang wajib2 aja dulu, sunnah2nya belakangan…heheh…
Singkat kata diskusi itu berlangsung jam 9 pagi sampe jam 11 siang hehe…
sekarang ini, aku cuman pengen nulis "uneg-uneg", sapa tau tulisanku yang amburadul ini bisa jadi pencerahan ..amiin…(mugo2 ga dianggep metuwek yo…)
Sejauh yang sedikit aku tau, pengertian sunnah itu dibagi menjadi 2
1. Sunnah dalam arti sempit adalah hukum..Masih inget ga? Pas SD dulu kita diajari ada beberapa macam hukum : fardhu ‘ain, fardhu kifayah, sunnah, mubah, makruh, harom. Kata guru agamaku dulu sunnah itu : dikerjakan dapat pahala , ga dikerjakan ga papa. Kalo yang aku pahami sekarang : dikerjakan dapat pahala , ga dikerjakan ya rugi…(ga dapat pahala kan rugi ;D). Misalnya : membaca doa iftitah adalah salah satu sunnah dalam sholat, artinya kalo kita ga baca doa iftitah sholat kita sah, tapi kita ga dapat tambahan pahala. Lebih tepatnya dikatakan disini membaca doa iftitah itu hukumnya sunnah. Contoh lain lagi : sholat dhuha itu hukumnya sunnah
2. Sunnah dalam arti luas artinya adalah : segala sesuatu yang datang dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, baik berupa ucapan maupun perbuatan beliau, berupa perintah, anjuran maupun larangan beliau. Termasuk juga dalam hal ini adalah perbuatan atau perkataan sahabat2 beliau radhiyallahu ‘anhum ajma’in yang mendapat persetujuan dari beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Ato lebih mudahnya kita pahami sunnah adalah hadits2 yang shohih, dari perkataan dan perbuatan beliau shalallahu ‘alaihi wasallam , dan perbuatan2 / perkataan sahabat2 beliau yang tidak bertentangan dengan apa yang beliau ajarkan.. (CMIIW)
Misalnya : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang laki2 mengenakan pakaian dari sutra, dan juga melarang laki2 menggunakan perhiasan dari emas. Maka kita katakan bahwa larangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah salah satu bagian dari Sunnah.
Misalnya lagi : Rasulullah memerintahkan kita untuk berbuat baik dan berbakti pada orang tua, maka kita katakan Birrul Walidain termasuk dari sunnahnya beliau.
Misalnya lagi : beliau pernah mencontohkan sebuah perbuatan mulia yakni memberikan hadiah kepada shahabat2 Khodijah radhiyallahu ‘anha , bahkan ketika Khodijah sudah meninggal. Sebagai sebuah bentuk penghormatan beliau kepada Khodijah …seorang istri yang sangat beliau cintai….dan sebagai wujud muamalah dan menjaga silaturrahim…Maka kita katakan perbuatan ini adalah bagian dari Sunnah beliau..
Misalnya lagi : ada salah seorang shahabat beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang lebih memilih untuk menikah dengan janda, dikarenakan dia sudah tidak memiliki ortu dan dia berharap wanita yang dinikahinya ini bisa mengurus adik2nya yang masih kecil2. Dan beliau tidak melarang shahabat ini dan tidak juga menyuruhnya menceraikan istrinya itu..meskipun Rasulullah sebenarnya lebih menganjurkan seorang lelaki menikahi wanita yang masih gadis, agar lelaki2 ini bisa ‘bermain2′ dengan wanita itu …dan dikarenakan wanita yang masih gadis itu lebih "nriman" (..hehe piye njelasnone yoo)..Maka kita katakan perbuatan shahabat ini adalah salah satu bagian dari Sunnah, karena Rasulullah setuju dan tidak menentangnya…
trus gimana hukumnya Sunnah dalam arti luas ini? We all know lah…bahwa hadits adalah sumber hukum yang kedua setelah Al Quran, maka kita wajib berusaha sekuat tenaga berpegang teguh pada keduanya ..Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam… (semoga kita diberi hidayah dan kekuatan untuk itu..amiin) Sebagaimana yang disampaikan Allah dalam banyak ayat2Nya : atii’ullaaha wa at’urrosuula wa ulil amri minkum. Juga seperti yang beliau sampaikan dalam khutbah beliau ketika haji wada’ ..Haji beliau yang terakhir sebelum akhirnya dipanggil menghadap Allah .."Aku tinggalkan untuk kalian, 2 hal, yang kalian tidak akan tersesat selama2nya ..selama kalian berpegang teguh pada keduanya….Al Quran dan Sunnahku…."
jadiii… memelihara jenggot adalah salah satu bagian dari sunnah beliau, tidak dipahami sebagai sebuah amalan yang hukumnya sunnah…karena hal ini jelas disampaikan beliau dalam haditsnya :
“Artinya : Selisihilah orang-orang musyrik, potonglah kumis (hingga habis) dan sempurnakan jenggot (biarkan tumbuh lebat,-peny)’ [1]. Shahih Al-Bukhari, kitab Al-Libas (5892, 5893), Shahih Musim, kitab Ath-Thaharah (259).
Kalo jenggotnya cuman sak uprit? ya wes…itu takdir hehe…pokoke jgn dicukur yooo…Inga’2 itu sebagai wujud penyelisihan kita terhadap orang2 musyrik, ato dengan kata lain biar membedakan kita dengan orang2 musyrik, dan biar laki2 ga menyerupai wanita juga …(emang ada wanita yang berjenggot?..duh sereem kalii xixixi)
maaf kalo ada yang salah..dan kurang berkenan..
**semoga Allah memberi hidayah agar kita teguh berpegang pada Quran dan sunnah, sampai akhir hidup kita..amiin**

