Suatu hari (halah) ..temenku Umm Ibrohim dan anaknya Syifa’ (akhwat kecil masih 4 tahun) silaturrahim ke kos. Waktu itu Syifa’ bawa sebuah buku belajar bahasa Arobnya. Iseng2 aku buka, dan mencoba tebak2an sama dia
Aku : Ayo Syifa’ hapalan ya..’ammah (tante/bibi dalam bahasa Arob) baca bahasa Indonesianya, Syifa’ tebak bahasa Arobnya..
akhirnya mulailah aku tebak2an sama dia (tentu saja aku yang ngintip buku)
aku : kepala , syifa’ : ro’sun, mata : ‘ainun, gula : sukkarun, susu : labanun, bus : kholifatun, baju : qomisun, celana : sarowiilun, pintu : baabun, pena : qolamun .. dst dst
dalam hatiku (wah kayaknya dia sudah hapal semua di buku ini…, sambil protes "Aku kalah sama anak umur 4 tahun huwaa huwaa" sambil membela diri : ya kalah lah, wong dia sejak kecil belajar basa Arob, lha aku?? barusan saja..masih grotal gratul , sering absen pula …hehe)…Maluuuww huhuhu…
Pertanyaan : bisakah anak kecil belajar banyak bahasa? (sempat ditanyakan juga di milis wikusama), Jawab : BISAAA!! hehe…Menurut ahli2 psikolog anak dan juga pakar Ilmu tentang otak manusia (Misal : si penulis Mind Map Mr Tony Buzan), otak kita ibarat raksasa yang sedang tidur..(ngorok lagi ;P), bisa memiliki kemampuan yang ruaarrr biasa, asal kita tahu bagaimana cara menggunakannya semaksimal mungkin. Sebagai perbandingan : Lebah, si hewan kecil yang cuman punya ribuan sel otak , bisa melakukan hal ini : membuat sarang yang rapi, mencari nektar bunga yang bermanfaat, mencari sumber nektar, menghasilkan madu, bee pollen, royal jelly, propolis…dan semua produk2 yang amat sangat bermanfaat bagi manusia. Lebah juga punya kemampuan team work yang hebat, kemampuan komunikasi yang canggih. Sedangkan manusia : punya miliaran sel otak, yang kemampuannya semakin berlipat ganda ketika neuron2 dalam sel otak itu saling terhubung. Pokoknya otak anda sebenarnya lebih hebat dari SUPER komputer manapuun!! hehe…(baca ndiri bukunya : Mind Map dan Head Strong karya Tony Buzan)
trus hubungannya apa sama anak kecil? Sering lihat iklan di Tipi2 kan? (iklan2 susu2 formula iku loh),’Mengandung AA dan DHA yang baik untuk pertumbuhan otak..bla bla bla.. untuk masa keemasannya"…
bener…! kemampuan otak kita, ada ketika kita bahkan masih dalam kandungan! Dan jumlah selnya akan terus bertambah sampai masa tertentu. Pakar Psikolog anak mengatakan : usia balita adalah masa2 pertumbuhan emas otak, artinya di masa itu kemampuan seorang anak akan sangat ruuarr biasa. Liat aja : dia belajar dari menelungkup, merangkak, jalan, observasi lingkungan, belajar ngomong, naik2 kursi dst2. Jadi? Kalo cuman belajar multibahasa, keciiilll! (Lihat anak kecil di Jepang? pinter banget basa Jepang kan? …padahal basa Jepang itu termasuk sulit loh).
Dulu aku punya Dosen Agama, beliau ini lulusan Psikologi dan pernah mengajar di Malaysia. Beliau pernah crita kalo anak2nya itu , bisa basa Arob, Inggris (apalagi Indonesia) , tapi kepada orang tua selalu pakai Boso Kromo Inggil…Kata beliau : Belajar Basa Arob untuk memudahkan belajar Agama, karena Al-Quran dan hadits berbahasa Arob, basa Arob adalah bahasanya penduduk syurga. Belajar Basa Inggris : untuk memudahkan belajar ilmu2 modern, karena sebagian besar ilmu modern jaman sekarang pake basa inggris, dan lagi biar dia tidak terlindas persaingan global di masa depan. trus Basa Indonesia : biar dia tidak lupa darimana dia berasal (hehe). Kalo Boso Kromo Inggil : agar dia menjadi anak yang sopan santun, tahu unggah ungguh… (Cuman Boso Kromo Inggil kan yang punya ungggah ungguh?)…
Hmm….temenku si Juwairiyyah pernah juga cerita : dia punya teman (ortunya Dokter), yang bisa beberapa bahasa asing : mandarin, inggris, jerman, dan apa lagi gitu…(tapi blom bisa Basa Arob)..Karena sejak kecil memang dibiasakan beberapa bahasa asing oleh orang tuanya…
Nah lo..!
Masih menurut pengalaman orang2 diatas …How do they do that? How do we teach our children mastering multi language? Jawab : orang tuanya harus pinter ! ;P. Kalo les mungkin bisa , tapi tanpa praktek di rumah…? susyaaah. Blom lagi biaya les yang mahal amiiir (di English First pendaftaran aja bisa sampe 1 jeti, di Goethe (pusat basa Jerman), juga mahaalll )
Dan sesuai pengalaman orang diatas, sistemnya bisa dibuat seperti ini : di rumah (sebagai sekolah pertama bagi anak), dibuat sebuah budaya untuk multi bahasa. Kaya English Day yang kita punya waktu STM dulu ;D.
Hari Senin, Jumat : Arabic Day
Hari Selasa, Kamis : English Day
Hari Rabu : Bahasa Indonesia
Hari Minggu : Bahasa Jerman
Hari Sabtu : Boso Jowo…or Kromo Inggil
dengan syarat : seluruh isi rumah harus kompak dan mau terlibat, Bapak Ibu, dan anak2nya
Pertanyaan lagi : apa anak2 ga stress ? jawab : pinter2nya si ortu (terutama Ibu) membuat sebuah kondisi yang semenarik mungkin. Dengan kata lain : belajar seolah2 tidak belajar, bisa dengan bermain, bercerita, menggambar, membuat percobaan delele…
Huuuffhh…another great chalenge to be a mom…!
Tapi, kalo orang lain bisa…kenapa kita tidak?? Ayoo semangat…!
Mumpung masih sendiri…belajar dulu dunk ah..! ;P


bus bukannya ‘haafilah’ ya mba?
ayo ayo semangat belajarnya… *sekalian nyemangatin diri sendiri*
Comment by rin — June 3, 2008 @ 11:20 am
waks iya..salah tulis tuh mbak…maksudnya khofilatun, agak2 lupa pake kho apa kha ya?
Comment by Administrator — June 5, 2008 @ 9:13 am