Juli 2009, saya masuk rumah sakit lagi. Iya lagi, karena setahun yang lalu saya juga dirawat dirumah sakit yang sama, di kamar yang bersebelahan, karena usus buntu. Bahkan mbak2 perawat pun masih hapal dengan wajah saya :(, hiks. Sebenarnya ga mau langganan masuk rumah sakit, tapi apa daya tubuh saya ga bisa ditolerir.
Awalnya, saya pikir saya kecapekan biasa. Maklum, dengan aktivitas kerja dan kuliah, saya selalu tidur larut malam. Hari libur pun biasanya dihabiskan untuk menyelesaikan tugas2 kuliah yang setumpuk, belum lagi bila harus lembur.
Awal bulan Juli, saya mulai tidak napsu makan, jangankan makan, bau makanan sedikit saja langsung mual dan muntah. Bahkan hampir seminggu, saya tidak bisa tidur dan istirahat di malam hari. Awalnya saya pikir, itu biasa. Saya periksa ke dokter umum di kantor, beliau bilang mungkin asam lambung saya naik, jadi saya cuma dikasih obat maag dan antibiotik. Sampai akhirnya, hari Senin malam 13 Juli 2009, sepulang kerja.Tiba2 tubuh saya demam, lalu malamnya menggigil. Sekujur tubuh rasanya gemetar, dan lemas tidak punya tenaga. Bicara pun saya ngos2an, seperti habis lari 100m. Karena tidak yakin dengan diagnosa dokter umum di kantor, akhirnya Selasa 14 Juli 2009 saya pergi ke RS Husada Utama, ke dr Yuliasih SPPD, KR, seorang dokter spesialis penyakit dalam dan rheumatologi.
Dokter menanyakan keluhan2 saya, dan beliau menanggapi dengan serius. Kemudian ketika dokter memeriksa sekujur leher dan punggung saya, ternyata ada banyak ruam2 merah, dan saya tidak tahu. Dokter Yuliasih terlihat begitu tanggap dan cekatan ketika memeriksa saya, sampai akhirnya setelah diperiksa saya bertanya "Jadi saya sakit apa Dok?", beliau jawab : "Mbak mau saya kasih tahu sakitnya?" ..Aku mikir (kok kayaknya serius?), akhirnya kujawab : "Iya Dok, gpp", kemudian beliau bilang aku terkena salah satu penyakit autoimun yang disebut SLE, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan sel2 atau bakteri jahat, justru melawan sel2 yang baik, jadi bisa menyerang semua organ tubuh. Masya Allah, saya terpesona, alias terbengong2.
Saya akhirnya diminta menjalani tes darah dan tes urine lengkap, kemudian diharuskan tes dsDNA dan ANA. Rabu pagi saya tes, sambil menahan rasa capek yang luar biasa. Karena hasil tes baru keluar hari Jumat, saya akhirnya harus istirahat dirumah selama dua hari.Di rumah, saya membaca buku seorang teman yang kebetulan kuliah di kedokteran. Saya masih shock, karena divonis dengan penyakit SLE. Yang konon katanya, belum diketahui penyebabnya dan belum juga ada obatnya. Jumat pagi, hasil tes saya keluar, saya bersyukur karena hasil tes dsDNA dan ANA saya negatif. Malamnya saya menemui Dokter Yuliasih, diantar Mbak Fery dengan sepeda motornya. Masya Allah, dalam perjalanan saya merasakan capek yang luar biasa, mual2 dan pusing di kepala,apalagi rumahnya jauuh. Sampai akhirnya saya bertemu dengan dokter, dan hasil lab saya dicek, saya tetap divonis sakit SLE :( .
Ternyata meskipun hasil tes dsDNA dan ANA negatif, ada 11 tanda umum yang bisa dijadikan acuan, dan jika memenuhi 4 nya saja bisa dipastikan positif (karena ada hasil tes2 lain yang memang positif, seperti LED , C3 dan C4). Bahkan dokter bilang, sakit saya mungkin sudah ada sejak saya kena usus buntu tahun lalu, tapi tidak terdeteksi. Makanya sampai usus buntunya yang kena. Dalam perjalanan pulang, saya merasa sudah ga kuat, sampai akhirnya saya muntah2. Sampai dirumah langsung istirahat dan paginya saya masuk rumah sakit.
Saya dirawat dirumah sakit selama 6 hari. Mungkin orang lain yang tidak tahu akan berkomentar, "badanmu ga kurus, mana mungkin kamu sakit?" saya akan bilang "dont jugde the book by the cover, kelihatannya memang iya saya sehat". Selama saya sakit bicara saja susah, beberapa patah kata cukup membuat saya kelelahan dan ngos2an. Saya bahkan tidak diijikan mendapat banyak kunjungan, bukan karena penyakit ini menular. Tapi justru karena dikhawatirkan saya yang akan ditulari. Ketika saya sakit, saya akan drop dan sel2 yang hiper akan bekerja :(. Pernah suatu hari, saya dikunjungi banyak teman. Sempat bercanda2 dengan mereka, dan akibatnya malamnya saya kumat. Saya tidak tidur semalam, besoknya harus diberi obat infus yang kata dokter untuk menekan autoimun saya. Masya Allah, sungguh tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak saya, Allah akan memberi saya sakit yang semacam ini.
Sejak kecil, saya anak yang aktif dan senang melakukan banyak kegiatan. Saya sangat shock, bahkan beberapa hari menangis. Karena sakit ini, saya sudah merepotkan banyak orang. Tapi ketika saya sempat protes dan bertanya :"Kenapa saya yang harus sakit seperti ini, sementara masih banyak hal2 yang harus saya kerjakan, kenapa harus saya yang diberi sakit, padahal sejak kecil saya baik2 saja?"
Saya teringat pesan dari Ustadz Zain ketika ta’lim di Musholla Grabik FK UA : "Sesungguhnya seorang hamba tidak berhak bertanya, kenapa Allah berbuat ini dan itu, karena Allah memang tidak akan ditanya oleh siapapun atas apa yang diperbuatNya dan Dia berbuat sekehendakNya. Justru manusia lah yang akan ditanya, nanti di yaumil hisab. Kenapa dia berbuat ini dan itu selama di dunia. Kenapa dia tidak bersabar padahal Allah memerintahkan kesabaran itu, dan kenapa tidak bersyukur padahal Allah juga memerintahkannya.
Manusia yang akan diminta pertanggung jawaban atas perbuatannya" Saya cuma bisa pasrah, Allah memberi sakit, tentu Dia menyediakan obatnya, meskipun manusia belum bisa menemukannya. Bahkan saya bersyukur, masih diberi kesempatan hidup, sementara ada penderita2 lupus yang lain yang terlambat dideteksi sampai akhirnya gagal ginjal dan radang otak, dan bahkan tidak terolong jiwanya , masyaAllah.
Semoga tulisan ini berguna dan menjadi pelajaran buat kita semua :)

